Monday, August 12, 2019

Waspadai Orang Ini ...

Namanya Ivan Kurniawan, tetangga beda RT.  Kami bersama-sama gak kenal banget secara personal, tapi ia kenal baik dengan anak saya, Gipau dan teman-temannya Gipau. Ivan ini sempat buka warung, Gipau dan teman2nya sering nongkrong di warung itu, bersahabat rumah. Dia juga sanggup berbengkel. Mobil kami pernah mogok pas mau berangkat ke Bekasi, mau merayakan malam tahun baru. Dia benerin hingga tengah malam, hingga kami sanggup jalan. Lalu Gipau dan teman2nya sering touring ke tempat Jawa Barat (ke Pangandaran dan tempat sekitarnya), ia bantuin. Kasih rujukan tempat penginapan, dan seterusnya. Singkatnya, kami mengenalnya sebagai orang normal, baik.

Beberapa kali ia perlu mobil. Mau kondangan, besuk kerabat yang sakit, lebaran, jalan-jalan bawa anaknya, ia pinjam kendaraan beroda empat kami. Tentu saja ia kasih sebagai pengganti sewanya. Kadang kasih 200 ribu, kadang 250 ribu, pernah juga 300 ribu. Per hari. Dan selama ini, hanya dialah yang pernah menyewa kendaraan beroda empat itu.

Akhir Agustus lalu, ia bilang ke Gipau mau sewa kendaraan beroda empat seminggu. Lalu Gipau minta izin ke saya. Karena kendaraan beroda empat memang gak kami pakai kemana-mana, ya sudah. Kasih aja. Hitung2an emak-emak, tidak mengecewakan sanggup uang sewa seminggu. Ivan eksklusif kasih uang sewa seminggu, 2.1 juta. Seperti biasa, kami kasih kunci dan STNK.

Seminggu, ia belum balikin. Katanya masih dipake bosnya ke luar kota. Ke Cirebon. Lalu ia minta perpanjang seminggu, ntar sewanya ditransfer. Lagi-lagi alasannya kami belum perlu juga, ya saya baiklah kan. Walaupun sewanya belum ia transfer, saya gak curiga. Mungkin nanti pas balikin mobil, ia akan bayar. Begitu pikiran saya. Minggu ketiga, saya mau pakai mobil, tapi ia belum balikin juga. Dia minta perpanjang lagi.

“Ntar sewanya sekalian saya transfer sama yang ahad kemarin.”

“Bukan soal itu. Saya perlu mobilnya. Ada pesta dan 2 arisan yang harus saya hadiri ahad ini. Tolong kembalikan segera.”

Pertengahan ahad ke 3, mungkin agar saya yakin, ia transfer Rp1.2 juta. Kata dia, sisanya nanti akan dibayarkan pas kembalikan mobil. Aku percaya.

Minggu ke 4, saya mulai gak sabar, curiga. Aku desak terus agar kendaraan beroda empat segera dikembalikan. Dia ngeles macam-macam. Bosnya sedang sakit lah di Cirebon, padahal (katanya) ia sudah sengaja ke Cirebon jemput mobilnya. Yang masuk ICU lah bosnya, gak sanggup diajak ngomong lah, gak tau kunci dimana, dan seterusnya. Lalu akad besok niscaya akan pulang ke Depok bersama mobilnya.

Besoknya, ngeles lagi. Pulangnya gak lewat tol, jadi lama.
Dua hari kemudian, ia bilang lagi di Bandung, nganterin bosnya. Aku minta share lokasi, gak mau. Aku telpon video call, gak diangkat. Aku minta fotokan mobilnya sebagai bukti bahwa kendaraan beroda empat saya beneran ada, gak mau.

Besoknya lagi, ia bilang sore ini habis Isya jalan ke Depok. Jam berapa pun nyampai di Depok, ia akan eksklusif antarkan kendaraan beroda empat ke rumah.
Besoknya lagi, begitu terusss…..!

Akhir ahad ke 4, alasannya saya sudah murka sekali, ia transfer Rp1.2 juta sebagai jaminan bahwa ia gak akan macam-macam. Saya bilang, saya perlu mobilnya! Saya banyak program dan perlu banget mobilnya. Dia tetap akad besok…besok…besok…!

Minggu ke 5, ia bilang kendaraan beroda empat di Jambi.
Besoknya lagi di Palembang.
Besoknya lagi di Lampung, malam akan nyebrang ke Merak.
Besoknya, ngeles lagi, gak jadi nyebrang alasannya gelombang tinggi.

(Si bodat ini bener2 ngibulin gue. Orang Sumatera, yang lahir dan besar di air, ia kibulin habis-habisan. Sejak kapan gelombang tinggi menciptakan orang gak sanggup nyebrang? Emang nyebrang bawa kendaraan beroda empat naik getek? Tolol!)

Saya lelah! Capek. Stress. Lapor ke polisi, kirim somasi, segala macam upaya sudah kami coba lakukan.

Dari grup paguyuban Depok tertangkap berair bahwa Ivan ini ternyata residivis, pernah dipenjara oleh Polres Jagakarsa alasannya perkara kendaraan beroda empat juga. Dia juga sedang dicari banyak orang alasannya penipuan. Ada yang tertipu 28 juta, ada yang 10 juta, 2 juta, macam-macam. Entahlah, setan apa yang merasukinya.

Saya? Saya sedang berusaha iklas. Walau setiap ingat kendaraan beroda empat itu, jujur, saya sedih. Pedih. 😢
Saya bukan orang berada yang kalau ingin sesuatu tinggal bilang, atau tinggal order. Saya hanyalah PNS biasa yang gak punya jabatan, gak punya harta, banyak tanggungan. Saya hanya berusaha mendapat sedikit rezeki dengan mengerjakan apa saja yang halal yang sanggup saya kerjakan.

Waktu saya mendapat hadiah dari DIKTI (tahun 2013) sebagai pustakawan berprestasi tingkat nasional, hadiah itu eksklusif saya buat untuk DP mobil. Pikir saya, agar ada kenang-kenangan hasil prestasi saya. Selama 3 tahun saya nyicil dengan upaya keras. Menyisihkan uang buat nyicil kendaraan beroda empat dari honor yang sangat pas-pas an itu, usaha berat buat saya. Gali lobang tutup lobang. 😢😢

Tapi sudahlah, kalau bukan rezeki saya lagi, saya iklaskan.
Saya putuskan banyak sekali dongeng ini, semata-mata agar tidak ada lagi orang yang tertipu oleh Ivan Kurniawan ini.

Silakan diamati tampangnya, siapa tau ia berkeliaran di tempat tinggal kalian, khususnya teman-teman yang tinggal di sekitaran Depok. Itu ialah kendaraan beroda empat saya yang ia bawa kabur, Xenia Family Black - B 1893 ZFJ.

Biarlah semesta yang menuntaskan semuanya, saya hanya ingin bekerja dengan tenang, mencari rezeki dengan bekerja benar. Kiranya Tuhan menolong saya. God bless you all! 🙏

https://www.facebook.com/groups/motuba.id/permalink/1621672427988668/

Ada kebutuhan Project sablon kaos untuk program anda ? Hubungi workshop sablon kaos Bar-Cloth .. www.bar-cloth.com

 Kami bersama-sama gak kenal banget secara personal Waspadai Orang Ini ...



Artikel Terkait

atOptions = { 'key' : '07afc16f9eba1540673c5cee858624a7', 'format' : 'iframe', 'height' : 250, 'width' : 300, 'params' : {} }; document.write('');